Dolar AS Jatuh tapi RI Resah, Isu Dagang Bikin Pasar Keuangan Ngeri

JAKARTA – Anomali sedang terjadi di pasar keuangan global dan domestik. Di saat indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) terpantau melemah atau “jatuh” karena ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, respons pasar Indonesia justru menunjukkan keresahan.

Berdasarkan pantauan perdagangan terakhir, meskipun Rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis di kisaran Rp16.630 – Rp16.680 per Dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tekanan hebat (jeblok) secara tiba-tiba.

Bayang-bayang Kesepakatan Dagang RI-AS

Keresahan pasar domestik ini disinyalir bukan berasal dari faktor eksternal semata, melainkan adanya “kabar genting” dari dalam negeri terkait hubungan dagang Indonesia-Amerika Serikat.

Investor dibuat cemas dengan isu potensi kolapsnya atau kegagalan hasil kesepakatan dagang antara RI dan AS. Jika kesepakatan ini gagal, dampaknya bisa sangat fatal bagi ekspor Indonesia, mengingat AS adalah salah satu mitra dagang utama.

“Kekhawatiran kolapsnya hasil kesepakatan dagang AS-Indonesia membayangi pasar keuangan Indonesia hari ini. Ini menjadi sentimen negatif yang menahan euforia pelemahan dolar,” tulis analisis pasar dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (11/12/2025).

Dolar Melandai, Tapi IHSG Volatil

Secara teori, pemangkasan suku bunga The Fed seharusnya membuat Dolar AS kurang menarik, sehingga investor asing akan memindahkan dananya ke Emerging Market seperti Indonesia. Namun, sentimen positif ini tertutup oleh ketidakpastian domestik.

  • Indeks Dolar (DXY): Terkoreksi 0,12% ke level 98,672 (Level terendah baru).
  • Neraca Dagang AS: Mencatat defisit terendah dalam 4 tahun terakhir, sinyal ekonomi AS melambat namun ekspor mereka melonjak.

Apa yang Harus Diwaspadai Investor?

Para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada dan *wait and see* terhadap dua agenda besar:

  1. Keputusan final suku bunga The Fed (Bank Sentral AS) yang akan “ketuk palu” dalam hitungan jam.
  2. Kejelasan status kesepakatan dagang RI-AS yang masih simpang siur.

Jika ketegangan isu dagang ini tidak segera mereda, aliran modal asing (Capital Inflow) yang diharapkan masuk ke IHSG dan SBN bisa saja tertahan, membuat pasar keuangan Indonesia tetap volatile (naik-turun drastis) di penghujung tahun 2025.

(Red)

Seedbacklink