Terjebak Sesak KRL Setiap Hari? Riset Ungkap Kepadatan Penumpang Picu Stres Akut Warga Tangerang

Bagi warga Tangerang yang setiap hari harus bolak-balik mencari nafkah ke pusat ibukota, Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line adalah urat nadi utama. Kecepatan dan tarif yang murah memang menjadi primadona, namun ada harga mahal yang diam-diam dibayar oleh para “Anak Kereta” (Anker) asal Tangerang setiap harinya: ancaman terhadap kewarasan dan kesehatan mental.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa (Vol. 3 No. 2, April 2025) oleh tim akademisi Universitas Negeri Jakarta (Alvia Cahya Damar, dkk.) membongkar realitas kelam di balik padatnya gerbong kereta. Mengangkat isu kelebihan kapasitas (overcapacity), temuan jurnal ini menjadi alarm keras yang realitanya sangat dirasakan oleh warga yang rutin berdesakan dari Stasiun Tangerang, Batu Ceper, hingga Poris.

Ancaman Nyata: Dari Lelah Fisik hingga Ketegangan Emosional

Pertumbuhan populasi di wilayah Tangerang selama dua dekade terakhir memaksa warganya sangat bergantung pada transportasi massal. Setiap pagi di jam sibuk, gerbong-gerbong kereta dari arah Tangerang menuju Stasiun Transit Duri disesaki penumpang bak sarden di dalam kaleng.

Menggunakan kacamata teori stres dari Lazarus dan Folkman, penelitian ini menemukan bahwa kepadatan ekstrem tersebut bukan sekadar soal rasa pegal karena tidak mendapat tempat duduk. Lebih dari itu, kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan fisik parah yang langsung menyerang psikologis.

Beberapa dampak krusial yang mengintai komuter Tangerang menurut kajian tersebut antara lain:

  1. Ketegangan Emosional (Emotional Tension): Minimnya ruang gerak dan udara di dalam gerbong memicu respons fight or flight pada otak. Hal ini menjelaskan mengapa penumpang KRL sangat mudah tersulut emosinya hanya karena tersenggol atau berebut jalan saat turun di stasiun transit.

  2. Rusaknya Interaksi Sosial: Travel stress atau stres perjalanan ini bersifat akumulatif. Warga Tangerang yang sudah kehabisan energi di jalan seringkali kehilangan mood untuk bersosialisasi. Sesampainya di rumah, kelelahan ini berpotensi merusak keharmonisan keluarga (work-family balance).

  3. Risiko Kesehatan Mental Jangka Panjang: Jika siklus himpit-himpitan ini dialami selama bertahun-tahun, tekanan mental yang menumpuk bisa bermuara pada gangguan kecemasan (anxiety) yang menurunkan kualitas hidup secara drastis.

Transportasi Tangerang Butuh Sentuhan “Humanistik”

Salah satu poin paling tajam dari riset ini adalah kritik terhadap cara pemerintah dan operator mengevaluasi layanan publik. Selama ini, kesuksesan KRL hanya diukur dari seberapa banyak penumpang yang berhasil diangkut atau ketepatan waktu.

Penelitian ini menegaskan perlunya pendekatan multidimensional dan humanistik. Evaluasi layanan KRL relasi Tangerang harus mulai mengintegrasikan indikator “kesehatan mental” pelanggannya. Penambahan rangkaian gerbong, pemendekan headway (jarak antar kereta) pada jam-jam krusial, serta perbaikan sistem sirkulasi penumpang di stasiun-stasiun padat adalah kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar wacana.

Warga Tangerang tidak hanya butuh transportasi yang cepat dan murah, tetapi juga ruang perjalanan yang memanusiakan manusia. Jangan sampai rutinitas mengejar kereta setiap pagi justru menjadi tiket menuju stres berkepanjangan.

Seedbacklink