Jakarta – Profesi diplomat seringkali dipandang sebagai pekerjaan prestisius yang mewakili citra bangsa di kancah internasional. Namun, di balik tuntutan untuk selalu tampil sempurna, tersimpan beban psikologis yang luar biasa berat. Kasus tragis yang menimpa seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berinisial ADP (39) menjadi pengingat nyata akan risiko kesehatan mental yang mengintai, sebuah isu yang kini disorot oleh Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR).
APSIFOR mengungkapkan bahwa diplomat ADP mengalami kondisi burnout atau kelelahan ekstrem yang berkaitan langsung dengan pekerjaannya. Kondisi ini diperparah oleh kesulitan sang diplomat dalam mengekspresikan emosi negatif yang ia rasakan.
Tekanan Empati Berujung Compassion Fatigue
Menurut analisis, salah satu pemicu utama burnout yang dialami ADP adalah tugasnya yang menuntut empati tinggi. Sebagai diplomat yang kerap terlibat dalam perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri, ia secara konstan terpapar pada kisah penderitaan, kesulitan, dan trauma yang dialami orang lain.
Paparan terus-menerus ini tidak hanya menguras energi fisik, tetapi juga mental, yang pada akhirnya memicu kondisi yang dikenal sebagai compassion fatigue atau kelelahan karena ikut merasakan (kepedulian). Ini adalah bentuk stres akibat menanggung beban emosional orang lain, yang sering dialami oleh para profesional di bidang bantuan dan pelayanan.
Dinding Emosi: Sulitnya Mengekspresikan Perasaan Negatif
Salah satu temuan kunci dari APSIFOR adalah kecenderungan ADP untuk menginternalisasi emosi negatifnya. Tuntutan profesi yang mengharuskannya untuk tetap tenang, kuat, dan terkendali di hadapan publik maupun dalam situasi krisis, diduga membangun sebuah dinding yang membuatnya sulit untuk menunjukkan atau menyalurkan stres, kesedihan, atau kekecewaan yang ia alami.
“Kecenderungan untuk memendam emosi negatif dan berusaha untuk tidak menunjukkannya kepada orang lain merupakan faktor risiko yang signifikan,” jelas seorang psikolog forensik. “Ketika emosi tidak diekspresikan secara sehat, ia akan menumpuk dan dapat bermanifestasi menjadi burnout, depresi, atau kecemasan.”
Meskipun bergulat dengan kesulitan ini, tercatat bahwa ADP pernah berupaya mencari bantuan dengan mengakses layanan kesehatan mental secara daring pada tahun 2021, sebuah indikasi bahwa ia menyadari adanya pergulatan batin yang ia hadapi.
Pentingnya Dukungan Kesehatan Mental Institusional
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi institusi seperti Kementerian Luar Negeri untuk memperkuat sistem dukungan kesehatan mental bagi para diplomatnya. Beban kerja yang tinggi, ditambah dengan isolasi sosial saat ditempatkan di negara asing dan paparan terhadap situasi traumatis, menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap masalah kejiwaan.
Langkah-langkah proaktif seperti menyediakan akses konseling rahasia yang mudah dijangkau, mengadakan pelatihan manajemen stres dan ketahanan mental secara berkala, serta menciptakan budaya kerja yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa para diplomat, sebagai garda terdepan negara, tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga kuat secara psikologis untuk menjalankan tugas mulia mereka.












