Tangerang – Berawal dari sebuah desa kecil di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, seorang pengusaha bernama Datuk Diraja Dimyani atau yang akrab disapa Kaji Dim sukses menembus pasar internasional. Melalui bendera perusahaan Lestari Sadean International (LSI), ia berhasil mengekspor lebih dari dua ribu jenis produk pangan lokal dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Indonesia ke Malaysia.
Kisah inspiratif perjalanan bisnis selama 22 tahun tersebut kini resmi didokumentasikan dalam sebuah buku otobiografi bertajuk “Dari Desa Menyuapi Dunia: Jejak Perjalanan Membangun Imperium Ekspor Pangan”. Peluncuran buku ini digelar bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun perusahaannya di Lojjika Hotel, Tulungagung, pada Senin (12/10/2026).
Merintis Pasar dari Kerinduan Pekerja Migran
Pria dengan nama asli Wachidal Mustofa Dimyani ini menghabiskan masa kecilnya di Dusun Jeding Kidul, Desa Ariyojeding. Darah perantau mengalir dari kedua orang tuanya yang pernah menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Selangor, Malaysia. Ayahnya dahulu bekerja sebagai pedagang kacang keliling, sementara sang ibu adalah seorang penjahit.
Berbekal latar belakang pendidikan teknik mesin dari ITN Malang, Dimyani memberanikan diri terbang ke negeri jiran pada akhir tahun 2001. Di sana, ia melihat sebuah peluang emas: mengobati rasa rindu para pekerja migran Nusantara terhadap makanan kampung halaman.
Ia mulai menjajakan produk pangan tradisional, mulai dari kerupuk, sale pisang, ampok, gatot, hingga tiwul. Perlahan namun pasti, usaha yang dirintis dari bawah ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Indonesia yang bermukim di Malaysia.
Ekspansi Bisnis dan Pemberdayaan UMKM
Pada 12 Oktober 2004, Dimyani melegalkan usahanya dengan mendirikan CV Lestari Sadean Internasional, yang kini telah berkembang menjadi perseroan terbatas di bawah naungan kelompok usaha Ananda Lestari Group. Perusahaan ini tidak sekadar mengejar profit, melainkan menjadi jembatan bagi para pelaku usaha kecil di Tanah Air.
Berdasarkan catatan perusahaannya, saat ini LSI rutin mengirimkan 8 hingga 10 kontainer berukuran 40 kaki setiap bulannya melalui pelabuhan utama di Surabaya, Jakarta, dan Belawan. Pada masa pandemi COVID-19 di tahun 2020, pengiriman bahkan sempat meroket hingga 20 kontainer per bulan.
Hebatnya, sekitar 60 persen dari total muatan tersebut merupakan produk dari pelaku UMKM berskala kecil. Model bisnis ini membuka akses distribusi internasional yang nyata bagi produsen daerah yang sebelumnya kesulitan menembus pasar luar negeri.
Ujian Berat dan Jimat Kehidupan
Menjalankan bisnis logistik lintas negara tentu tidak selalu mulus. Salah satu momen paling mendebarkan dalam hidup Dimyani terjadi pada 1 Mei 2016 silam. Truk pengangkut produknya mengalami pecah ban dan terguling hebat di jalan tol menuju gudang baru di Penang, Malaysia. Meski muatan berhamburan ke jalan raya, ia sangat bersyukur masih diberi keselamatan jiwa dari insiden tersebut.
Di balik ketegaran dan kesuksesannya, Dimyani menempatkan sosok ibunda sebagai kunci utama perjalanannya. Petuah sang ibu untuk selalu berserah diri kepada Tuhan dan menjauhi sifat sombong saat sukses selalu ia pegang teguh.
“Ibu adalah jimat satu-satunya untuk saya. Maka dari itu, saya harus menjaga beliau,” tutur Dimyani dengan penuh haru saat memberikan sambutan peluncuran bukunya.
Dedikasi Sosial Melalui Yayasan
Selain merambah sektor logistik dan ritel, grup usaha milik Dimyani kini juga menaungi Yayasan Ananda Lestari Cemerlang. Yayasan ini difokuskan untuk memberikan beasiswa pendidikan bagi anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu, serta memberikan program pendampingan bagi calon pekerja migran.
Sebagai bentuk dedikasi, Dimyani memastikan bahwa seluruh hasil penjualan buku Dari Desa Menyuapi Dunia ini akan disumbangkan langsung ke yayasan tersebut. Buku ini tidak hanya menjadi rekam jejak literasi seorang pengusaha, tetapi juga bukti nyata bahwa anak desa mampu membangun imperium bisnis global tanpa melupakan akar sosialnya.
(Red)












