Menyambut Era Pembuatan Musik AI: Ancaman atau Peluang? Ini Tanggapan Alfathu Kabiru Rifa’i

Alfathu Kabiru RIfa'i
Alfathu Kabiru RIfa'i

Industri musik saat ini sedang mengalami pergeseran yang cukup masif. Kalau beberapa tahun lalu memproduksi sebuah lagu butuh studio rekaman mahal, produser handal, dan instrumen yang lengkap, sekarang situasinya jauh berbeda. Memasuki tahun 2026, era pembuatan musik AI sudah menjadi realitas baru di dunia kreatif. Hanya dengan bermodalkan teks prompt di layar komputer, sebuah lagu utuh bisa tercipta.

Kemunculan teknologi kecerdasan buatan di ranah audio ini tentu memancing beragam reaksi. Sebagian pihak melihatnya sebagai ancaman bagi musisi konvensional, sementara yang lain justru menganggapnya sebagai jalan pintas untuk berkreasi tanpa batas.

Untuk membedah fenomena ini, kami berbincang dengan Alfathu Kabiru Rifa’i, seorang musisi asal tangerang yang aktif mengamati titik temu antara seni dan kecerdasan buatan.

Akses yang Lebih Terbuka untuk Berkarya

Menurut Alfathu Kabiru Rifa’i, dampak paling terasa dari era pembuatan musik AI adalah terbukanya kesempatan bagi siapa saja untuk menghasilkan karya. Hal ini meruntuhkan batasan teknis yang selama ini sering menjadi kendala bagi orang awam.

“Teknologi ini mendobrak batasan yang ada. Seseorang yang punya ide lirik luar biasa tapi kebetulan tidak bisa memainkan alat musik seperti gitar atau piano, sekarang bisa mewujudkan lagunya secara utuh dalam hitungan menit. Ini membuka ruang ekspresi yang sebelumnya tertutup bagi banyak orang,” ungkap Alfathu.

Ia juga menambahkan bahwa efisiensi yang ditawarkan AI sangat membantu para kreator konten independen, pengembang game, atau pembuat film pendek. Mereka kini bisa mendapatkan musik latar orisinal yang sesuai dengan kebutuhan tanpa harus memikirkan biaya lisensi yang tinggi.

Tantangan Hak Cipta di Balik Kemudahan

Di balik segala kemudahan tersebut, Alfathu tidak menampik adanya tantangan besar yang mengikuti, terutama terkait etika dan hak cipta. Mesin AI pada dasarnya dilatih menggunakan jutaan lagu yang sudah ada di pasaran, sehingga wajar jika muncul perdebatan mengenai siapa pemilik sah dari lagu yang dihasilkan.

“Tantangan terbesar di era pembuatan musik AI ini adalah regulasi hukumnya yang masih abu-abu. Karya yang dihasilkan AI adalah hasil sintesis dari karya-karya musisi sebelumnya. Oleh karena itu, industri dan platform digital perlu segera merumuskan aturan main yang jelas agar tidak ada pihak, terutama musisi aslinya, yang dirugikan,” jelasnya.

AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Emosi Manusia

Lalu, apakah peran musisi manusia akan benar-benar tergantikan oleh mesin? Alfathu langsung menepis kekhawatiran tersebut. Baginya, secanggih apa pun algoritma sebuah sistem, esensi dari sebuah musik tetaplah bahasa emosi manusia.

“AI memang bisa meracik nada yang harmonis dan menghasilkan suara vokal yang jernih, tapi AI kan tidak pernah patah hati, tidak pernah jatuh cinta, dan tidak punya pengalaman hidup. Jiwa dan kedalaman emosi dari sebuah lagu akan selalu berasal dari manusia,” tambah Alfathu.

Ke depannya, ia memproyeksikan AI hanya akan menjadi asisten produksi di studio, sementara kendali kreatif dan penyampaian rasa tetap dipegang penuh oleh sang musisi.

Era pembuatan musik AI memang membawa gelombang perubahan yang tidak bisa ditolak. Alih-alih melawannya, para pelaku industri kreatif justru dituntut untuk beradaptasi dan menemukan ritme baru untuk bekerja berdampingan dengan teknologi.

Seedbacklink