Rekaman CCTV Bongkar Teror Tetangga di Depok, Korban Nyerah dan Akhirnya Lapor Polisi!

Belakangan ini, warganet dihebohkan oleh kisah tidak menyenangkan yang menimpa sebuah keluarga di kawasan Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat. Keluarga dari Bapak Azis Suraji terpaksa harus menghadapi kenyataan pahit dan berniat menjual rumah mereka akibat teror berlarut-larut dari tetangganya sendiri.

Bagaimana sebenarnya awal mula dari konflik yang mengganggu kenyamanan keluarga ini hingga viral di media sosial? Berikut adalah rangkumannya.

Berawal dari Salah Paham Kata “Orang Gila”

Menurut penuturan Novita (29), anak dari Azis Suraji, konflik panjang ini sebenarnya dipicu oleh sebuah kesalahpahaman. Pada mulanya, sang ibu sedang bercanda dengan suami Novita, yang merupakan seorang Warga Negara Asing (WNA). Karena sang suami kurang mengerti bahasa Indonesia dan hanya menangkap intonasi bernada sarkas, ibu Novita berusaha membuat cucunya yang sedang menangis agar tertawa kembali dan berhenti menangis.

Dalam usahanya menenangkan sang cucu, ibu Novita melontarkan candaan dengan mengucapkan “orang gila”. Sayangnya, ucapan tersebut memicu rasa sakit hati sang tetangga karena ia merasa dirinyalah yang sedang dikatai. Padahal, Novita menegaskan bahwa tidak ada satupun anggota keluarganya yang bermaksud menghina atau mengatai tetangga tersebut pada saat kejadian.

Rentetan Teror: Dari Musik Keras hingga Lempar Helm

Semenjak kejadian salah paham itu, ketenangan keluarga Novita mulai terenggut oleh berbagai bentuk gangguan. Salah satu insiden terjadi pada tahun 2025, di mana sang tetangga dengan sengaja menyalakan musik dengan volume keras, padahal saat itu ibu Novita sedang mengadakan pengajian ratiban pada malam Jumat.

Puncak dari teror ini terekam oleh kamera pengawas (CCTV) dan videonya beredar luas di media sosial pada Kamis, 16 Juli 2026. Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang pria mengendarai motor mondar-mandir di depan pagar rumah keluarga Novita, dan kemudian melemparkan helm dengan kencang ke dalam area rumah korban. Pada hari yang berbeda, pria yang sama juga kedapatan membuang sampah ke rumah korban, yang sempat memicu keributan saat warga sekitar berusaha melerainya.

Alami Culture Shock dan Gagal Bertukar Rumah

Situasi lingkungan yang tidak kondusif ini membuat keluarga Novita mengalami culture shock (keterkejutan budaya). Novita menceritakan bahwa keluarganya yang sebelumnya tinggal di Kebagusan, Pasar Minggu, awalnya merasa senang saat pindah ke rumah baru mereka. Namun, karena harus berhadapan dengan tetangga yang kerap melakukan teror, mereka menjadi menyesal pindah ke tempat tersebut.

Kini, demi mengembalikan kenyamanan, mereka berniat serius untuk menjual rumah tersebut. Sebelumnya, keluarga Novita sempat mendapat tawaran dari pihak yang ingin bertukar rumah. Sayangnya, rencana tukar rumah itu batal dilakukan karena pihak penawar akhirnya mengetahui tabiat buruk sang tetangga.

Berujung pada Laporan Polisi

Menindaklanjuti rentetan aksi teror yang meresahkan tersebut, keluarga korban akhirnya menempuh jalur hukum. Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Made Gede Oka, telah membenarkan bahwa pihak korban baru saja membuat Laporan Polisi (LP) pada Rabu, 15 Juli. Laporan tersebut teregister dengan nomor LP/B/1531/VII/2026/SPKT/POLRES METRO DEPOK. Saat ini, kepolisian dari Polres Metro Depok tengah memeriksa saksi-saksi untuk mendalami dan menyelidiki kasus tersebut.

Seedbacklink